Home > Agama > Dari Dialog Allah Swt dengan Nabi Isa as Menatap 2009

Dari Dialog Allah Swt dengan Nabi Isa as Menatap 2009

January 15, 2010 Leave a comment Go to comments

“Dan (ingatlah) ketika Allah (SWT) berkata kepada Isa putra Maryam (as.): ‘Apakah engkau pernah berkata kepada manusia, jadikan aku dan ibuku tuhan-tuhan selain Allah?’ Isa menjawab: ‘Tidak patut bagiku untuk mengatakan (sesuatu) yang aku tidak berhak (untuk mengatakannya).

ika aku pernah mengatakannya, maka Engkau pasti sudah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sementara aku tidak mengetahui apa yang ada dalam dirimu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui (hal-hal) yang gaib. Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan untuk mengatakannya, yakni ‘Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’.” QS. Al-Maidah/5: 116-117).

Simak dialog menarik di atas. Betapa dialog tersebut sarat dengan muatan nilai. Salah satu nilai yang dapat dipetik adalah kejujuran. Kejujuran yang Nabi Isa perlihatkan adalah penyampaian pesan dakwah yang memang menjadi haknya untuk mengatakan—tidak lebih, yakni pesan tauhid.

Kejujuran tersebut ia ungkapkan dengan kalimat yang penuh kerendah-hatian: ‘Tidak patut bagiku untuk mengatakan (sesuatu) yang aku tidak berhak (untuk mengatakannya)’. Kejujuran itu ia ungkapkan juga dengan komitmen yang penuh pada kebenaran, seperti tersirat pada kalimat: ‘Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan untuk mengatakannya’.

Lebih dari itu, dialog di atas memuat juga nilai pengawasan. Pengawasan di sini tidak sekedar bersifat horisontal, antar manusia, namun lebih dari itu bersifat vertikal-ilahiyah. Pengawasan horisontal bisa saja tidak efektif ketika pelaku pengawasan tidak fungsional, baik karena faktor internal maupun faktor eksternal (terutama objek pengawasan)—keduanya justru memanfaatkan pengawasan sebagai media mencari keuntungan materi semata.

Karena itu, untuk melampaui itu, diperlukan kesadaran tentang pengawasan vertikal-ilahiyah, sebagaimana Isa menyadarinya melalui ungkapan: ‘Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sementara aku tidak mengetahui apa yang ada dalam dirimu’.

Dalam Islam, pengawasan ilahiyah ini akan melahirkan ihsân (kebajikan yang berlimpah). Bukankah ihsân didefinisikan dengan ‘kamu menyembah Allah seolah kamu melihat-Nya, dan sekiranya kamu tidak melihat-Nya, maka Dia pasti melihatmu’?

Kita baru saja memasuki tahun baru 1430 H dan 2009 M, tahun di mana kita sebagai bangsa akan punya kerja besar pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden. Nilai-nilai yang termuat dalam dialog antara Allah SWT dan Nabi Isa as. di atas dapat kita jadikan pedoman dalam melaksanakan kerja besar itu, baik sebagai pemilih maupun lebih-lebih sebagai pemimpin dan wakil rakyat yang dipilih. Marilah kita pilih pemimpin dan wakil rakyat yang track recordnya jujur, rendah hati, berkomitmen pada kebenaran, sadar akan pengawasan ilahiyah, dan melahirkan banyak kebaikan buat sesama. [fs]

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: